chapter ^ 54: karma

Posted on 2 March 2012 by daunilalang.
Categories: the rose without throns story.

Kala kau marah
Berteriak !

Umumkan pada dunia

Dan menuding

: Penipu

Kau katakan
Kawanmu menipu
Penipuuuu

Kau bilang
Pengkhianat!
Kau dikhianati kawan…

Pernahkah terpikir olehmu
Bahwa kau pernah
— Berbohong

Rampas hak orang lain

— Dan berkhianat

Pada kawan yang
tulus membantu?

***

Ketika kau marah

Geram!

Saat orang berbuat jahat padamu

Lupakah kau
: Bahwa kau jerumuskan orang orang
Yang menganggapmu kawan

tuk memusuhi orang yang bahkan
Tak mereka kenal

Sebab kau terlalu pengecut
tuk hadapi lawanmu sendiri

***

Kau bermanis muka
Kesana kemari

Berlagak malaikat

Seakan kau sahabat
semua orang

Palsu…
… Palsu
Kau pikir kau bisa tipu semua orang?

: Tak tahukah kau
Berjuta orang menonton

Tertawakan lagak badutmu?

***

Bahkan semua setan
hantu
dan dedemit

tahu

Kau kawan mereka!

Dan apa yang kau alami
adalah

Karma

– buah perbuatanmu sendiri
di masa lalu…

***

It is a man’s own mind,
not his enemy or foe,
that lures him to evil ways

( Buddha )

chapter ^ 53: mengapa kurusak tulisan ‘bagus’ itu?

Posted on 27 September 2011 by daunilalang.
Categories: the rose without throns story.

( tanggapan atas posting di sukangeblog )

book-on-fire

Sebuah tulisan bisa mempengaruhi pola pikir dan jalan hidup seseorang.

Apa yang dikatakan pada kalimat di atas kupercayai benar. Sebab bukan sekali dua kali aku terinspirasi oleh tulisan- tulisan yang kubaca.

Biasanya, aku menyerap tulisan- tulisan yang kuanggap bagus dan merekam ilmu yang kudapat dari situ. Sampai suatu ketika, tanpa kuduga, aku harus menghadapi situasi ketika aku menemukan tulisan bagus yang tak kusetujui isinya.

Tulisan itu bagus. Tak bisa dipungkiri, tulisan itu memang harus disebut bagus. Cara menulisnya runtut, bahasanya baik, dan isi ceritanya memikat serta penuh greget. Bahkan aku yang tadinya membaca salah satu bab dari cerita bersambung itu secara kebetulan kemudian menjadi pembaca tetap di blog itu.

Benar, tulisan bagus itu beberapa tahun yang lalu kubaca di sebuah blog di blogdetik. Blog s3lingkuh.

Lalu, apa yang kulakukan?

Tak ada. Aku (mulanya) menjadi silent reader saja. Kukunjungi blog itu secara rutin, tapi tak pernah meninggalkan jejak.

Walau aku gemas.

Bukan apa- apa cerita dengan alur yang memikat itu adalah cerita tentang perselingkuhan. Dan tulisan itu sangat berbahaya menurut aku, justru karena tulisan itu dituliskan dengan sangat baik. Tulisannya halus, jauh dari vulgar. Bahasanya mengalir ringan, dan ada banyak kelucuan yang bisa ditangkap dalam cerita tersebut.

Beberapa bab dalam cerita bersambung itu bahkan dapat membuat hati para pembacanya meleleh.

Dan karena itulah, akhirnya, pada suatu hari, kuputuskan untuk secara terang- terangan berdiri di pihak yang berlawanan dengan pemilik blogger itu.

Banyak alasan untuk itu.

Baik saat (seperti banyak pembaca blog tersebut) aku masih percaya bahwa hal tersebut adalah kisah nyata, maupun setelah kudapatkan konfirmasi bahwa tulisan itu adalah fiksi, tak pernah kurubah peran itu. Aku ada di pihak oposisi.

Komentar pertamaku untuk posting di blog tersebut panjang. Dan pedas. Tanpa tedeng aling- aling kuberikan pendapatku bahwa baik Kuti maupun Luna melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan. Tanpa basa- basi juga pernah kukatakan di salah satu komentarku bahwa jika saja aku memiliki akses untuk menghubungi Luna, maka Luna-lah yang akan kucoba sadarkan terlebih dahulu. Lebih baik mengurusi sesama perempuan saja daripada repot- repot mengurusi laki- laki yang menjadi pasangan selingkuh Luna itu. Begitu tulisku.

Hanya saja, sebab aku tak mungkin menghubungi Luna yang entah berada dimana itu, aku rasa, baik juga jika kupengaruhi saja pikiran error sang lelaki itu, pikirku. Sebab secara tidak langsung, jika dia berbalik pikir, maka dengan sendirinya Luna akan pula terselamatkan. He he.

Dan itulah mulanya yang kulakukan.

Sampai suatu saat, setelah aku sendiri menduga dengan sangat kuat, kudapatkan konfirmasi dari sang pemilik blog bahwa tulisan di blog s3lingkuh itu adalah fiksi.

Lalu, berhentikah aku?

He he, tidak. Aku tidak berhenti berdiri di sisi yang berbeda.

Terpaksa. Apa boleh buat.

Cerita fiksi dalam s3lingkuh ditulis dengan cara yang sangat memikat. Karena itulah justru dengan apa boleh buat aku terpaksa harus merusak-nya. Tujuanku hanya satu: agar para pembaca blog itu tak terhanyut oleh cerita yang dituliskan di sana.

Kulakukan hal tersebut secara konsisten. Dengan cara yang amat error, he he he. Yang saat itu kulakukan adalah mengcounter posting- posting yang ada dalam blog itu dengan cara membuat semacam posting tandingan, baik di kolom komentar blog itu sendiri maupun di blog daunilalang milikku.

Posting tandingan itu sering sekali menggunakan judul yang sama, atau bahkan meminjam kata- kata yang digunakan dalam posting di blog s3lingkuh, tapi dengan isi yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Kujungkir balikkan isi posting di blog tersebut. Kupindahkan settingnya dari kota besar ke padang ilalang.

Dan mengapa kulakukan itu?

Sebab kembali lagi, aku percaya bahwa sebuah tulisan bisa mempengaruhi pikiran dan tindakan pembacanya.

Tulisan di blog s3lingkuh ditulis dengan apik. Dan justru karena pemilik blog-nya menuliskan kisahnya dengan sangat apik itulah, maka cinta terlarang yang digambarkan di sana tampak manis, indah dan mengundang.

Oleh karenanya, terpaksa kukacaukan tulisan itu. Sebab aku khawatir, alih- alih mencegah, akan banyak pembaca tulisan tersebut yang lalu malah tergiring untuk berpikir bahwa selingkuh itu indah.

Terpaksa kuambil resiko menjadi sasaran kekesalan banyak pembaca blog itu, sebab aku membuat blogger populer pemilik blog s3lingkuh itu menjadi bahan gurauan jahilku. Sebab pendapat- pendapat dan isi tulisannya kuledek dan kujungkir balikkan. Sebab komentar- komentarku kadangkala bahkan lebih panjang dari posting yang ada di sana. Sebab para tokoh utama yang keren dalam cerita di dalam blog tersebut kurubah seenaknya menjadi tokoh kartun dengan tingkah aneh- aneh yang sengaja kutuliskan dengan gaya hiperbola.

Tak ada niatan apa- apa selain bahwa menurutku, jika kita menulis di media dimana tulisan tersebut dibaca banyak orang, maka kita perlu berhati- hati, sebab mungkin tanpa kita sadari kita sedang menggiring seseorang, atau banyak orang, ke suatu jalan pikiran dan tindakan tertentu.

Dan aku tak ingin tulisan bagus di blog s3lingkuh itu menggiring banyak orang untuk melakukan perselingkuhan.

Itulah sebabnya, pada saat itu, terpaksa aku melawan arus, memilih peran untuk menjadi lawan tanding seorang blogger populer yang blognya selalu ramai pengunjung.

Tak pernah kusesali pilihan itu. Sebab paling sedikit, telah kusuarakan kata hatiku. Telah kukatakan apa yang menurutku benar. Telah kuupayakan untuk meredam bahaya dari efek tulisan bagus yang isinya tak kusepakati itu.

Dan last but not least, kudapatkan bonus dari semua itu, karena walau tampak seperti dua makhluk yang berasal dari planet yang sangat berbeda, tapi kami lalu bersahabat. Blogger ‘lawan tanding’-ku tersebut di kemudian hari bahkan mengajak aku untuk membangun sebuah blog duet. Blog yang kini telah hampir tiga tahun kami gawangi bersama. Dari blog ini telah lahir sebuah buku. Blog yang kami kelola bersamapun kini bukan hanya satu, tapi ada beberapa buah :)

Mengatakan kebenaran itu, memang tak pernah rugi, kawan

** gambar diambil dari flickr.com **

chapter 114: kerinduan

Posted on 17 August 2011 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

rindu itu…

mengintip
..menggelitik
menggigit

nyeri
nikmat

: indah…

***
rindu itu…

melayang jauh

menembus awan

menuju suatu tempat

: ke dekat rumah berkubah hijau
– rumah rasulullah

: ke suatu tempat
dimana ka’bah

– rumah Allah

berada

***

rindu itu…

mendera
menerpa

~ ketika ingatan akan masjid nabawi dan masjidil haram menarik seluruh jiwa…

chapter 113: jalan itu…

Posted on 12 July 2011 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Ada banyak waktu
Saat kita tak tahu

Dimana jalan yang kita
telusuri
‘kan berujung

Tapi jika
Ada banyak kunang-kunang menari
Dan limpahan sinar mentari

Di jalan itu

– perlukah kita tahu kemana dia ‘kan
berujung?

chapter 112: cinta sejati

Posted on 3 July 2011 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Dan cinta itu teruji oleh waktu
Dua hati yang bertaut
Dahulu kala
Masih juga saling mencinta
: Saat ini

Dan cinta itu teruji oleh waktu…
Ketika janji antara seorang lelaki dan perempuan
– muda kala itu
Bertahan hingga kini
Saat masa muda tinggal cerita

~ Cinta sejati tak pernah rapuh oleh waktu
Rajutannya akan terus menguat
oleh setiap detik yang dilewatkan bersama…

Selamat Ulang Tahun Pernikahan
3 Juli 2011

~ With lots of love to my parent on their wedding anniversary ~