chapter 22: somewhere over the rainbow

Posted on 13 November 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Once upon a time
In a small planet called earth

Saat berpapasan tak sengaja
Di depan pintu

Seorang pemuda berbadan tegap
mengulurkan tangan

Ada gadis bermata bintang
membalas
mengulurkan tangannya

Lalu
tiba tiba saja

Serpihan putih halus

entah datang darimana

menjelma

di sekeliling mereka …

Indah…
… sangat indah …

seperti

Kapuk yang
~ melayang

seperti

Dandelion
yang
~ beterbangan

tertiup angin

di
angkasa

*****

Dan terdengar denting halus

musik pembuka

sebuah mimpi…

*****

Somewhere over the rainbow
Way up high,
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby.

Somewhere over the rainbow
Skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

Someday I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far
Behind me.
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me.

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly.
Birds fly over the rainbow.
Why then, oh why can’t I?

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can’t I?

( Somewhere Over the Rainbow ; music by Harold Arlen, lyrics by E.Y. Harburg )

chapter 24: surat biru langit

Posted on 15 November 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Long long time ago
In a galaxy far far away…

Seperti hari-hari sebelumnya
seorang gadis melangkah perlahan

di

Jalan teduh

bertabur
bunga tanjung

Yang indah

dan
wangi …

Pulang
ke rumah …

*****

Sambil mendorong

Gerbang rumahnya
perlahan

Gadis itu
menengok

kotak surat

dan

Senyumnya bertebaran
dengan
sangat tulus

ketika

didapatinya

Sebuah amplop

dengan nama
dan alamatnya
tertulis

di situ …

*****

Long long time ago
In a galaxy far far away …

Beberapa hari sebelumnya

Seorang pemuda
dengan mata yang
sangat teduh

menulis surat

Untuk

Seorang
gadis kecil
yang

seindah puisi …

*****

Adikku sayang,

begitu isi suratnya

apa kabar?
aku sudah tiba di sini
ini alamatku

Adik kecil,

aku mulai menjalani
hari-hari

pertamaku

meniti tangga
menuju

birunya
langit …

mengejar
~ c i t a …

chapter 37: cinta putih

Posted on 22 November 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Long long time ago
In a galaxy far far away

Seorang gadis
Mengucapkan salam

Memasuki rumah

Di
rambutnya

ada

Dua
kuntum

kembang tanjung

~ putih …

*****

Sinar mata
gadis itu

~ melembut

Senyumnya

~ bertebaran …

Sebuah amplop
menanti

di

Atas meja
belajar…

*****

Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan
melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka

antara kita Mati datang tidak membelah…
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia
sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang
mati di alam ini !
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkan tenaga dan hidup dalam
tubuhku…

18 Januari 1944

Chairil Anwar

………………………………………………………………………………………………..
Chairil Anwar@Sajak Putih - buat tunanganku Mirat

chapter 38: rindu putih

Posted on by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Long long time ago
In a galaxy far far away

Seorang gadis
Perlahan

Mengeluarkan
Sehelai

kertas

dari

amplop

Dan

: dia menatap
Gambar

dirinya
di situ…

*****

Beberapa hari sebelumnya

In another galaxy
… far
far away…

Seorang pemuda
bermata teduh

Mencoretkan
pensilnya

di

atas kertas

Mencurahkan

Segala

mimpi

angan dan
rasa ~

Dengan

tulisan tangan

yang
sangat

Indah

Digoreskannya
pesan :

‘ Aku rindu padamu, adik kecil ‘

dan ditandatanganinya

Sketsa itu

dikirimkan

melalui awan putih
dan langit biru

menghantar rindu

pada seorang

gadis kecil ~

~ puisi
hidupnya …

chapter 51: kelinci putih dan balon warna-warni

Posted on 29 November 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Long long time ago
In a galaxy far far away

Seorang pemuda berbadan tegap

Tersenyum ~

Pada seorang gadis yang
duduk

di

Sampingnya

Di halaman
Berumput hijau

dengan

Kelinci-kelinci putih
yang

Melompat-lompat
di sekitar

Mereka

*****

Long long time ago
In a galaxy far far away…

Seorang gadis manis

Tersenyum ~

Setengah bermimpi
Merasakan kehangatan

Hati

Saat duduk
Berdampingan

dengan

Pemuda di
Sebelahnya

dan

Menatap indah
serta lucunya

Kelinci berbulu putih

*****

Long long time ago
In a galaxy far far away

Seorang gadis sepolos
kanak-kanak

Membuat
Seorang

Pemuda
Berbadan tegap

Teringat sebuah

Sajak
Kanak-kanak :

When Anne and I go out for a walk,
We hold each other’s hand and talk
Of all the things we mean to do
When Anne and I are forty-two

And when we’ve thought about a thing,
Like bowling hoops or bicycling
Or falling down on Anne’s baloon
We do it in the afternoon

( A.A. Milne @The Morning Walk@ When We Are Six)

*****

Mata kanak-kanak gadis itu
Masih juga tersenyum

Melihat kelinci-kelinci
Putih

Berlompatan

Ingin rasanya pemuda itu
Menawarkan
Padanya :

” Maukah kau, kuberi
Balon warna-warni agar

Dapat

Kau terbangkan balon itu

Ke udara
Mengantar catatan

Cita-cita

kita
– Berdua –

terbang
ke

Angkasa? “

chapter 52: negeri di awan

Posted on 30 November 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Once upon a time
In a small planet called earth

Seorang gadis memandangi
Kelinci-kelinci putih

Yang berlompatan
Di halaman berumput

hijau …

Entah mengapa

Warna putih bulu
Kelinci itu

Mengingatkannya pada
Awan-awan ~

Putih

Di atas
sana…

Pemuda berbadan tegap
Yang duduk
di samping

Gadis itu

Bertanya
padanya

” Maukah kau berjalan-jalan
Pagi ini ? ”

Tanpa menunggu jawab
Pemuda itu
Bangkit

dari

Duduknya…

~ dan …

Bintang-bintang
Kembali

Berhamburan
di sekitar mereka

Saat gadis itu
Tersenyum

dan

Mengangguk…

*****

Once upon a time
In a small planet called earth

Seorang gadis
bergeser hendak
bangkit

dari
duduknya…

Dan

Pemuda berbadan tegap itu
mengulurkan tangan
untuk

membantu gadis itu
berdiri

Saat gadis itu
membalas

mengulurkan tangan

dan

kedua tangan itu
akhirnya

saling

menggenggam…

Saat itu juga…

: Serpihan putih halus

menjelma~

di sekeliling mereka …

Indah…
… sangat indah …

seperti

Kapuk yang
~ melayang

seperti

Dandelion
yang

~ beterbangan
tertiup angin

di

angkasa

*****

Dan …

denting halus
musik itu

terdengar
lagi …

Di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu

Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang neg’ri di awan
dimana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana oh.. hoo

Ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih

(Katon Bagaskara@Negeri di Awan)

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

to : kuti, untuk persahabatan kita ~ terimakasih setulusnya

chapter 53: the farewell symphony

Posted on 2 December 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Don’t be dismayed at goodbyes.
A farewell is necessary before you can meet again.
And meeting again, after moments or lifetime,
is certain for those who are friends.

( Richard Bach )

Man’s feelings are always purest and most glowing
in the hour of meeting and of farewell.

( Jean Paul Richter )

Why can’t we get all the people together in the world
that we really like and then just stay together?
I guess that wouldn’t work.
Someone would leave.
Someone always leaves.
Then we would have to say good-bye.
I hate good-byes.
I know what I need.
I need more hellos.

( Charles M. Schulz )

How lucky I am to have something
that makes saying goodbye so hard.

( Carol Sobieski and Thomas Meehan, Annie )

Forever is a long bargain.
( German proverb )

*****

Long long time ago
In a galaxy far far away

Seorang gadis
Menahan gejolak hati

Berdiri berhadapan
dengan

seorang
lelaki

yang sungguh gagah…

Keduanya tak mampu

Mengeluarkan kata
Maupun suara…

*****

Long long time ago
In a galaxy far far away

Lelaki itu menghela nafas
Dan memaksa diri

berkata

” Aku berangkat besok…”

Gadis itu tetap tak
mengucapkan

Sepatah katapun

Dia tak hendak
menangis …

Dia tahu

Jika dia

ucapkan
sesuatu

Saat itu pula

Katup sumbat air mata
~ akan terbuka

Gadis itu tetap diam
Menatap manik mata

Lelaki gagah itu

Lalu mengangguk dan
tersenyum ~

Dan…

Keduanya berdiri
berhadapan

Bermenit-menit

Tiada bergerak

Dan…

Gelombang hangat itu
Melanda kembali

Membesar
Dan

Terus membesar…

Keduanya masih

berhadapan –

Tanpa kata ~

Tanpa suara ~

Gelombang itu melanda
Keduanya

Terus menerus

Lagi …
… Lagi

dan

… Lagi …

Gelombang itu mengitari

Melingkari …
Membungkus …

dan

Membelit

jiwa mereka…

*****

Semenit berlalu
Dua menit

Tiga menit

Tak seorangpun

bergerak

Tak seorangpun
menyampaikan

Pesan

Dengan kata
atau

Suara…

*****

Long long time ago
In a galaxy far far away

Dan gelombang hangat itu
Menghantam mereka

Kembali…

Sangat keras

Hangat…
tetapi

Nyeri…

Memukul
Hati…

Gadis itu mencoba
tersenyum ~
Lelaki itu mencoba
tersenyum ~

Empat menit…
Lima menit…

Keduanya masih

Berhadapan

Tanpa kata
Tanpa suara

Merasakan nyeri
Saat

Jiwa yang menyatu

akan harus

terpisah jarak…

Enam menit…
Tujuh menit…

Seorang gadis berdiri
berhadapan

Dengan seorang lelaki
gagah

Tiada bergerak

Saling menatap manik mata

Tanpa kata
Tanpa suara ~

Delapan menit …

Lelaki gagah itu berusaha

menahan
keinginan

untuk

memeluk

dan

membelai rambut

gadis manis
di hadapannya

Sembilan menit…
Sepuluh menit…

Gadis itu mengeluh dalam
hati

Betapa ingin dia
menelusupkan kepala…

masuk ke dalam

pelukan

lelaki gagah itu

sampai esok hari…

Tapi tiada

seorangpun
bergerak …

Sebelas menit…
Dua belas menit…

Tiga belas…
Empat belas…

Lima belas…

Dan mereka

terlempar ~

ke dalam pusaran

dimana

waktu menjadi
tiada lagi

berarti…

……………………………………………………………………………………………………….

Another version of Dan…
For : Kuti

chapter 54: Dan…

Posted on by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Once upon a time
In a small planet called earth

Seorang lelaki gagah
dan

seorang gadis
berdiri berhadapan

bermenit-menit

saling menatap

tanpa kata …
tanpa suara …

Lelaki gagah itu
memaksakan diri

bicara

” Aku berangkat besok ”

ujarnya

Gadis di hadapannya
tersenyum ~

Mengangguk

Dan…

hampir bersamaan,
lirih…

sangat lirih…

keduanya mengucap salam
perpisahan

” Jaga dirimu baik-baik ”

Dan…

lelaki gagah itu
mengulurkan

tangannya

Dan…

Saat gadis itu
membalas

mengulurkan

tangan

serta

kedua tangan
itu

akhirnya

saling

menggenggam…

denting musik halus
terdengar di

sekitar mereka…

Should old acquaintance be forgot,
and never brought to mind ?
Should old acquaintance be forgot,
and old times since ?

CHORUS:

For auld lang syne, my dear,
for auld lang syne,
we’ll take a cup of kindness yet,
for auld lang syne.
And surely you’ll buy your pint cup !
And surely I’ll buy mine !
And we’ll take a cup o’ kindness yet,
for auld lang syne.

CHORUS

We two have run about the slopes,
and picked the daisies fine ;
But we’ve wandered many a weary foot,
since auld lang syne.

CHORUS

We two have paddled in the stream,
from morning sun till dine† ;
But seas between us broad have roared
since auld lang syne.

CHORUS

And there’s a hand my trusty friend !
And give us a hand o’ thine !
And we’ll take a right good-will draught,
for auld lang syne.

CHORUS

( Robert Burns@Auld Lang Syne ; English translation )

*****

Once upon a time
In a small planet called earth

Dua tangan
saling menggenggam ~

Semenit …
Dua menit …

Tiga…
Empat…

Lima…

Dan ketika

– akhirnya

mereka

terlempar
ke dalam

pusaran
dimana

waktu
menjadi

tiada lagi
berarti

: mereka sadar
bahwa

jarakpun akan

terjembatani

jika

hati dan

~ jiwa
saling mengerti …

*****

Once upon a time
In a small planet called earth

Pemuda itu
menatap

manik mata
sang gadis

yang

balas

menatapnya ~

Dan…

Mereka
Saling tersenyum

Tanpa kata…

Tanpa suara…

Dan…

Mereka melepaskan
genggaman

tangan itu

lirih berkata
bersama-sama

” Sampai ketemu lagi, ya? ”

*****

Gadis itu membalikkan
badan

menyembunyikan
air mata

yang nyaris
runtuh

Dan…

Lelaki gagah itu
menghela nafas

panjang

Dan…

Sedetik kemudian
gadis itu

berbalik
menghadapnya

kembali

kemudian

dengan suara
tertahan

nyaris tak
terdengar

dia bicara

” Kirimi aku

kartu pos bergambar,
dari sana… ”

Lelaki gagah itu

mengangguk

Dan…

: bersamaan
keduanya

membalikkan

badan

berjalan
ke arah

yang berbeda …

Tapi bahkan
pada langkah

pertama

sekalipun…

Mereka sudah

merasakan…

Gelombang hangat itu
melanda mereka

kembali

Gelombang itu
bergerak

berputar

bergulung ~

: Mengitari
Membungkus

dan

Membelit
jiwa

mereka…

Dan…

saat itulah …

: mereka tahu

jarak tak akan pernah
dapat

~ memisahkan mereka ~

………………………………………………………………………………………………………………

To : Kuti, thanks to let me use the same title with yours

chapter 55: the light of my life

Posted on 4 December 2008 by daunilalang.
Categories: the soulmate love story.

Hal yang paling indah,
adalah bahwa kau dan aku selalu
berjalan bersama, bergandengan tangan
dalam keindahan dunia ini
tanpa diketahui orang lain.

Kita berdua menerima Sang Kehidupan,
sebab Sang Kehidupan itu dermawan

( kahlil gibran )

*****

Long long time ago
Once upon a time
One day

In a galaxy far far away
In a small planet called earth

Seorang gadis
dan seorang pemuda

saling menatap
dan tersenyum

tersenyum…
tersenyum…

tersenyum…

*****

Keduanya
selalu saling
tersenyum ~

karena
anggap

kehadiran
yang lain

adalah pelengkap
kehadiran jiwa
dirinya

sendiri…

Mereka,
selalu dapat
saling menemukan

keindahan ~

pada diri yang lain
sebab

memiliki
keindahan

yang sama
di dalam hati

mereka
selalu dapat
saling mengerti

walau
bicara

dengan bahasa
yang berbeda

walau
melakukan sesuatu
dengan cara

yang berbeda

walau
warna pelangi mereka

berbeda…

Karena…
saat mereka bergabung

berdua
~ saling menatap dan
tersenyum ~

dan
bergandengan tangan
berjalan bersama
menyusuri jalan kehidupan…

maka…

senyum itu akan

abadi ~

keindahan itu
menjadi

~ lebih indah

dan…

warna pelangi itu…

menjadi
sangat

berkilau… ~

memiliki

lebih banyak
variasi

warna
lagi…

~ dan…
semuanya menjadi

bening
indah…

sangat indah…

penuh cahaya

gemerlapan ~

*****

Kapanpun saatnya …

Long long time ago
Once upon a time
One day

Dimanapun
tempatnya …

In a galaxy far far away
In a small planet called earth

: kekasih
hatiku …

jika aku
sedang
bergandengan

tangan

~ denganmu

maka…

aku tahu…
aku tahu…

aku tahu…

: bahwa

kau adalah

karunia terbesar
hadiah terbaik

dan

terindah ~

yang pernah

aku terima

sebagai karunia
sepanjang

hidupku …

terimakasih …

untuk selalu
menganggap

aku

~ indah

terimakasih

untuk selalu
: mengerti

apapun
warna

pelangiku

saat itu …

terimakasih

bahwa kau
yang

begitu indah

~ tulus
sangat bening …

dan teduh ~

mata air yang
tak pernah kering

sumber kehidupanku …
… inspirasiku …

keteduhanku ~

dulu…

sekarang…

dan
semoga

juga…

esok hari

selalu…
… selalu

selalu…

bersedia
mengajakku

bergandengan
tangan

denganmu

lalu

~ kita ~

menelusuri
jalan

menatap segala
cahaya terang

dan

keindahan

yang diciptakan
oleh

Yang Kuasa

~ bersama ~

*****

Genggam tanganku, kasih …

: Kuberikan

Hatiku

Hidupku

Jiwaku

padamu

~ dulu …
…. sekarang

esok….
…. lusa

kelak…

: selalu …

~ Aku cinta padamu ~

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Behind the scene - The Light of My Life

The Light of My Life is a thank you letter, and a love letter as well, for the dearest one… seorang lelaki kekasih hati, belahan jiwa….

cinta terindah
yang hadir

dalam
hidupku

dihadirkan

oleh

seorang
lelaki

kekasih
hatiku

cahaya
terangku

yang
: selalu

bersedia

menerangi

jalan

yang akan
kutempuh

dan

seperti
gemerlap

bintang

yang
menyinari

hidupku …

: terimakasih

untuk

cinta yang
begitu

berlimpah ~

*****

kata-kata
tidak akan cukup

untuk
mengungkapkan

: karena

lelaki terkasih
ini

~ lebih indah

dari puisi ~

~ to : s , 4 desember 2008
untuk mengenang indahnya saat perkenalan kita pada suatu bulan desember ~ d.

chapter 56: be ready when it comes

Posted on 10 December 2008 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Love is an Opportunity
An Opportunity to give of one’s self
And receive from another
An opportunity for two
To equal one

And like all opportunities
We never know
When Love might come

So we must learn
Not to try to force it
But just to be ready
When it comes

( Javan@Meet Me Halfway )

*****

Once upon a time
In a small planet called earth
Seorang gadis
Mengumpulkan kertas ujiannya

dan

Melangkah
ke luar
Kelas

Ditolaknya tawaran

Beberapa kawan
untuk

Belajar bersama
di

perpustakaan

: dia

Memiliki rencana

– Sendiri –

*****

That day
In a small planet called earth

Gadis yang sama
Berlari

Melatih diri
Memukul bola

Ke seputaran
Lapangan ~

Menjangkau umpan
ke pojok- pojok

yang

Tersulit

– Berpeluh

Dia berlari
Membungkuk

Berputar
menjejak kaki

dan

tebang
~ melayang …

… indah …

seindah
ballerina

menari ~

*****

About 30 minutes later
In a small planet called earth

Gadis itu masih

Berlari

Melompat

Berputar

dan

~ Melayang

Saat

Seorang pemuda jangkung
datang

Menghampiri

Sang gadis berhenti melompat

Mendengar salam pemuda itu
” Aku temani, boleh ? ”

Dia tersenyum
mengangguk

dan

Menjawab

” Ya ”

Dan…

berdua mereka
Berlatih

Berlari

Melompat

Berputar

Memukul dan

Menjangkau

bola

Ke sudut-sudut tersulit

~ bersama ~

chapter ^ 40: jalan itu…

Posted on 8 October 2010 by daunilalang.
Categories: the rose without throns story.

Never was good work done without much trouble ( Chinese Proverb )

***

I.

( Kuti @ Jalan itu… )

Dan jalan itu akhirnya terbentang,
dan kau kini perlahan menapak, menjejakkan langkah pertama dari jutaan langkah yang akan dijalani…

Kita tahu ini bukan untuk menambah sesuatu ‘yang terlalu banyak’ itu…
Bukan juga supaya mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh ’si Bill yang itu’…
Bukan juga sebagai pelipur lara atas ‘bencana’ yang terjadi di Yogya…

: Ini merupakan wujud tanggungjawab atas talenta yang diberikan Yang Kuasa
Bahwa selagi bisa, kita harus berbuat yang terbaik untuk orang lain..

Tentu, tak ada jalan yang mudah…
Akan selalu ada kerikil tajam
Tapi bukankah itu wajar?

Yang Kuasa tak pernah menjanjikan jalan yang selalu mulus…
Namun dia berjanji akan menopang jika ada badai yang sekonyong-konyong menerpa

: Kita pernah terheran-heran bagaimana sesuatu menjadi indah pada waktunya
dan takjub bagaimana besarnya cinta Yang Kuasa
jadi tak ada alasan untuk tidak bersyukur…

Dan kelak,
Jika waktunya tiba…
Jika jalan yang dilalui sudah menjadi bagian dari irama,
kita bisa melanjutkan keping mimpi yang tertunda…

Kita punya banyak waktu…
Dan waktu bisa menunggu….

***

II.

( Dee@ Jalan itu… )

Waktu bergerak maju
Detik demi detik
Menit demi menit
Jam demi jam

Terbilang menjadi hari
Terkumpul sebagai bulan

Jalan yang terbentang itu
‘Tlah ditapaki selangkah demi selangkah

Langkah pertama menjadi kedua
Yang kedua menjadi tiga

Kini… ribuan langkah ‘tlah ditapakkan

: Jalan itu memang bukan jalan yang mudah

Sebelum jalan lapang tak berkerikil itu ditemukan
Ada banyak jalan setapak penuh duri dan kerikil
Ada banyak semak dimana ular dan kelabang bersembunyi

– Yang harus dilalui

: Kita sudah lama tahu ini bukan untuk menambah sesuatu ‘yang terlalu banyak’ itu…
Bukan juga supaya mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh ’si Bill yang itu’…
Bukan juga sebagai pelipur lara atas ‘bencana’ yang terjadi di Yogya…

: Ini merupakan wujud tanggungjawab atas talenta yang diberikan Yang Kuasa
Bahwa selagi bisa, kita harus berbuat yang terbaik untuk orang lain..

Walau kerap kali lelah mendera
Walau ada banyak gores dan luka tercipta

: Kita tahu bahwa semua ‘kan menjadi indah pada waktunya
dan kita tahu wujud cinta Yang Kuasa kadangkala diberikan sebagai ujian

~ Tak ada alasan untuk tidak bersyukur

Tak ada.

Walau ada banyak air mata mengucur
Kita tahu ujian itu harus dilampaui
sebab tingkatan lebih tinggi ‘tlah menanti

: Kita tahu

Berjalan lurus
Bersikap adil
Pikirkan kepentingan orang lain

Itu mudah
– jika hanya bicara dan menjadi wacana

Tapi tak mudah laksanakan semua itu
dalam realita

: Semoga kompas tak kan pernah hilang
Semoga peta terbaca dengan benar

Semoga arah langkah ini tetap lurus tanpa tersesat

Dan kelak,
Jika waktunya tiba…
Jika jalan yang dilalui sudah menjadi bagian dari sejarah

Saat menengok ke belakang
Kuingin bisa merasa bangga dan mengangkat muka
Karena telah bertahan pada kebenaran

~ Dan setelah itu…
kita akan bisa melanjutkan keping mimpi yang tertunda…

: Kita harus wujudkan mimpi itu…

***

III.

( Dee@Jalan itu… )

Dan seperti telah digariskan oleh hukum alam

Matahari terbit dan tenggelam
Bulan separuh berganti menjadi penuh

Hari terus berputar
Waktu berlari

Lalu pada suatu titik…
Harapan itu terbentang lagi

Tak lagi terhitung berapa jumlah langkah yang telah dijalani
Tapi…

Ular- ular bersembunyi
Kelabang terkendali

Dan…

Cahaya itu
Walau samar

Tampak di ujung sana…

Tak kan mudah…
Tak kan mudah…

Seperti yang telah kita tahu sejak lama
: Jalan itu memang bukan jalan yang mudah

Sejak dulu kita tahu

: Ini bukan untuk menambah sesuatu ‘yang terlalu banyak’ itu…
Bukan juga supaya mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh ’si Bill yang itu’…
Bukan pula sebagai pelipur lara atas ‘bencana’ yang terjadi di Yogya…

: Ini merupakan wujud tanggungjawab atas talenta yang diberikan Yang Kuasa
Bahwa selagi bisa, kita harus berbuat yang terbaik untuk orang lain..

Walau kerap kali lelah mendera
Walau ada banyak gores dan luka tercipta

Tapi ternyata…

Cahaya itu memang ada di sana

Ada di sana!

Kelak…
Pada suatu hari nanti

~ Kita ‘kan raih bintang- bintang itu…

***

Menjaga bening hati
Tanpa tergoda materi

Tak pula inginkan
Ketenaran semu

Memang bukan jalan yang mudah

Tapi lihatlah mentari menari
Dan bintang bernyanyi

: Karena

Walau luka belum juga kering
Dan air mata masih menetes

Jalan ini…
Jalan yang ditempuh ini…

Tampaknya jalan yang benar

Cahaya itu ada di ujung sana

Jauh
Berkelip kecil

Tapi ada

Dan itu cukup
– Itu cukup…

Sebab

Denting sebuah lagu mulai pula terdengar

Walau sangat sayup
dan halus

Lagu indah itu ‘tlah menanti
Di ujung jalan…

~ Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

Someday I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far
Behind me
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can’t I?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..
catatan: bagian pertama tulisan ini merupakan tulisan Kuti yang dimuat di blog rumahkayu pada bulan November 2009. Bagian kedua, aku tambahkan di blog daunilalang ini pada bulan September 2010. Bagian ketiga, kucatat di daunilalang hari ini, Oktober 2010.

chapter 114: kerinduan

Posted on 17 August 2011 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

rindu itu…

mengintip
..menggelitik
menggigit

nyeri
nikmat

: indah…

***
rindu itu…

melayang jauh

menembus awan

menuju suatu tempat

: ke dekat rumah berkubah hijau
– rumah rasulullah

: ke suatu tempat
dimana ka’bah

– rumah Allah

berada

***

rindu itu…

mendera
menerpa

~ ketika ingatan akan masjid nabawi dan masjidil haram menarik seluruh jiwa…

chapter 113: jalan itu…

Posted on 12 July 2011 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Ada banyak waktu
Saat kita tak tahu

Dimana jalan yang kita
telusuri
‘kan berujung

Tapi jika
Ada banyak kunang-kunang menari
Dan limpahan sinar mentari

Di jalan itu

– perlukah kita tahu kemana dia ‘kan
berujung?

chapter 112: cinta sejati

Posted on 3 July 2011 by daunilalang.
Categories: the gestalt story.

Dan cinta itu teruji oleh waktu
Dua hati yang bertaut
Dahulu kala
Masih juga saling mencinta
: Saat ini

Dan cinta itu teruji oleh waktu…
Ketika janji antara seorang lelaki dan perempuan
– muda kala itu
Bertahan hingga kini
Saat masa muda tinggal cerita

~ Cinta sejati tak pernah rapuh oleh waktu
Rajutannya akan terus menguat
oleh setiap detik yang dilewatkan bersama…

Selamat Ulang Tahun Pernikahan
3 Juli 2011

~ With lots of love to my parent on their wedding anniversary ~

chapter 16 ~ the snobs

Posted on 15 May 2011 by daunilalang.
Categories: the secret dreamgirl story.

KENAPA sih, aku repot- repot membahas hal- hal yang sudah lama berlalu tentang suatu komunitas tertentu?

Ada banyak alasan mengenai itu.

Alasan yang terutama adalah karena, selama ini sebenarnya apa yang terjadi tak pernah dilihat secara berimbang, terutama sejak kemunculan buletin yang diselewengkan fungsinya itu. Jadi aku ingin membuat catatan tentang hal tersebut.

Selama ini berita datang dari satu pihak. Persepsi dibentuk oleh satu pihak.

Pihak yang menurutku justru merupakan pihak yang merusak kedamaian, menghancurkan suasana egaliter. Pihak yang entah atas dasar apa mengangkat diri sebagai penguasa, merasa menjadi kaum elite dan eksklusif yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain.

Pihak yang sungguh, bagiku tak pernah jauh gambarannya dari gank- gank ala anak ABG, atau gank eksklusif yang petantang- petenteng di lingkungan dimana dia hadir, membungkus diri sebagai aktivis, membuat kegiatan ini itu yang seakan- akan ditujukan dan hasilnya akan dipetik oleh banyak pihak tapi sebenarnya pada dasarnya fokus perhatiannya hanya pada diri sendiri.

Kelompok ini tak ubahnya dengan gank yang biasa mengganggu dan memusuhi orang- orang yang tak bersedia bergabung, apalagi mengatakan sesuatu yang tak sepaham dengan mereka.

Definisi siapa anggota kelompok yang tak pernah jelas, bagiku sudah mengherankan.

Lebih mengherankan dan menggelikan lagi sebab ternyata diantara penggiatnya saja definisinya rupanya tak dipahami serupa.

Ada yang mengatakan bahwa kelompok ( atau ‘komunitas’ ) tersebut anggotanya adalah semua blogger yang bergabung di blogdetik, tanpa kecuali. Ada yang mengatakan bahwa anggotanya adalah orang- orang yang mendaftarkan diri. Ada yang mengatakan bahwa anggotanya adalah blogger dari mana saja ( lucu sekali ya? ‘blogger dari mana saja’ itu, apakah artinya seluruh blogger di dunia adalah anggota komunitas ini? Ha ha ha )

Tidak masuk akal.

Tapi pada akhirnya aku memahami mengapa definisi itu kacau balau.

Sebab definisi tentang siapa anggota kelompok ini memang pada akhirnya akan berujung pada suatu hal: kepentingan pribadi. Apapun itu.

Definisi bahwa anggota komunitas ini adalah seluruh blogger yang memiliki blog di blogdetik akan dengan serta merta mengikat para blogger di blogdetik ( yang sebetulnya datang dan ngeblog di blogdetik atas kemauan sendiri, dan aku sungguh tak melihat juga upaya atau kontribusi mereka untuk menambah jumlah blogger di blogdetik ).

Akibatnya, blogger- blogger di blogdetik harus menginduk pada kelompok ini. Semua aturan main ditentukan oleh kelompok ini. Yang tak sepakat, dikeroyok hingga babak belur.

Mudah diduga, banyak orang memilih untuk diam dan atau bermanis- manis berbasa- basi. Mendekat pada ‘lingkaran kekuasaan’.

Di kemudian hari aku mendapati bahwa sebetulnya bahkan sebelum aku ( dan ‘Kuti’ ) mengatakan hal- hal ini, sudah ada beberapa blogger lain yang mempertanyakan hal yang sama. Ada beberapa posting lama di beberapa blog yang aku temukan yang menunjukkan ketidakpuasan beberapa orang atas konsep dan cara pembentukan kelompok ini. Dan kudapati bahwa mereka juga ternyata dicaci- maki.

Artinya, memang tak pernah ada ruang untuk berpendapat diberikan.

Tentang dua definisi yang lain, menurutku juga penerapannya tak tepat.

Jika dikatakan bahwa anggota kelompok ini adalah anggota yang terdaftar, dan mendaftarnya sukarela, lalu mengapa blogger yang tak pernah terdaftar dan tak berminat mendaftar dipaksa- paksa untuk bergabung, dituduh tak hendak berkontribusi jika tak bersedia? Dan mengapa orang- orang yang bukan anggota terus menerus diusik dan dituliskan profilenya di buletin-salah-arah itu? ( lebih parah lagi, banyak fitnah dan isapan jempol ada di dalam tulisan- tulisan ini )

Definisi paling aneh adalah definisi ketiga yang mengatakan bahwa anggota komunitas ini adalah blogger dari mana saja, tak harus dari blogdetik.

Mudah dilihat bahwa bahkan definisipun dapat dibuat sekehendak hati sesuai dengan kepentingan yang mengatakannya. Mudah pula ditelusuri sejak kapan definisi anggota boleh dari mana saja itu muncul. Hal tersebut muncul ketika sudah mulai banyak suara negatif tentang kelompok ini naik ke permukaan dan ada blogger yang mengatakan keluar dari komunitas lalu membuat blog di luar blogdetik.

Blogger ini di kemudian hari menjilat ludahnya sendiri. Setelah riuh rendah membuat pengumuman kepindahan itu dan kawan- kawannya berkomentar ini dan itu, dia toh kembali dan… tak ada yang berubah dari tingkah lakunya.

Semua itu sebenarnya yang membuat rasa antipati muncul.

Belum lagi, aku tak tahu ada berapa banyak blogger di luar ‘lingkaran kekuasaan’ itu yang mengamati dengan cermat. Tapi… sebenarnya tampak jelas bahwa mereka yang menyatakan diri sebagai pendiri, penggiat, pengurus atau apapun namanya dari kelompok ini sebenarnya adalah orang- orang yang selalu menikmati banyak fasilitas gratis yang diberikan.

Ticket menonton musik gratis, atau undangan acara ini itu, yang kemudian ceritanya dimuat di blog mereka, diberikan hanya pada kelompok eksklusif tersebut. Tapi, jika ada kegiatan yang membutuhkan tenaga dan/ atau dana, maka semua ‘anggota’ diminta berpartisipasi. Ha ha ha.

Ada satu titik dimana pada akhirnya aku dan ‘Kuti’ dengan terang- terangan mengatakan bahwa kami bukan anggota komunitas itu. Tak perduli apapun definisi yang mereka gunakan, kami katakan bahwa kami bukan anggota.

Hal tersebut kami lakukan sebab apa yang terjadi sungguh telah berada di luar batas kemampuan kami untuk bersabar. Pelecehan, penghinaan, kesewenang- wenangan yang terjadi, pemutar balikan fakta, hasutan- hasutan negatif dilakukan oleh mereka.

***

Aku paling tidak tahan melihat orang- orang sombong yang sok eksklusif. Apalagi jika mereka tanpa hati memamer- mamerkan diri.

Dan sungguh, sebenarnya aku akan lebih senang jika aku bisa menjauh saja dari kelompok yang bagiku tak lebih dari kelompok pemicu tawuran ini, tapi pada suatu hari, terpaksa aku memberikan komentarku lagi.

Yaitu saat mereka kembali membuat acara kopdar. Acara yang nyata- nyata sebenarnya acara pribadi tapi dipublikasikan sebagai acara komunitas.

Sebab apa yang terjadi saat itu bagiku sudah keterlaluan.

Saat itu mereka berkumpul untuk makan gratis di sebuah rumah makan, diberitakan dengan gegap gempita. Mudah diduga, undangan diberikan pada orang- orang tertentu saja. Tak pernah ada pengumuman terbuka atas kegiatan ini.

Pertanyaan bermunculan dari beberapa blogger yang berbeda di posting yang memuat berita itu tentang mengapa mereka tak tahu ada acara ini dan tak diundang.

Tak ditanggapi.

Sampai aku akhirnya mempertanyakan hal tersebut: ini sebetulnya acara pribadi atau komunitas?

Bagiku mudah, bila itu acara pribadi, fine. Tapi tak perlu membawa- bawa nama komunitas. Jika ini acara komunitas, lalu mengapa informasi diberikan hanya pada orang- orang tertentu yang dipilih saja?

Hasilnya?

Seperti yang sudah- sudah.

Komentarku segera ditanggapi. Negatif, tentu saja. Ha ha ha.

Orang- orang yang itu- itu juga tiba- tiba bermunculan mengomentari pertanyaanku.

Bagiku jelas sudah seperti apa kualitas mereka. Apa yang harus dikatakan tentang orang yang melecehkan dan merendahkan orang yang sedang bertanya dan mengatakan pendapatnya?

Dan aku mencatat bahwa ada orang, yang kebetulan lelaki, yang selalu muncul berkomentar negatif dalam kesempatan seperti itu.

Pengecut. Orang itu pengecut. Dia hanya selalu berani muncul jika ada dalam kelompok. Tak perlu lagi kukatakan apa pendapatku mengenai laki- laki semacam itu. Nol besar.

Yang lucu, tampaknya ada yang menduga bahwa aku berkomentar sebab aku ( ingin hadir tetapi ) tak diundang.

Ha ha ha. Salah besar… salah besar.

Bukan itu yang aku pikirkan.

Aku berkomentar karena menurutku ada satu hal mendasar yang mereka lupakan.

Yaitu bahwa menurut pengamatanku akan ada X, Y, Z, para blogger yang konon anggota komunitas di luar sana yang menggigit jari dan meneteskan air liur sambil mengelus dada yang nyeri sebab walau konon mereka adalah bagian dari komunitas tapi mereka tak pernah dianggap layak menjadi bagian dari acara- acara semacam ini.

Aku tak mengerti bagaimana ada orang- orang yang tega tertawa- tawa tanpa mengingat bahwa ada blogger lain yang konon anggota komunitas yang karena keterbatasan ekonomi tak mampu makan di tempat itu mengetahui apa yang mereka lakukan tapi tak diajak ke acara itu.

Para blogger yang mungkin tak pernah mereka ingat namanya ini alih- alih diajak bergabung justru sengaja dipameri dan dibiarkan menjadi penonton yang diharapkan bertepuk tangan melihat mereka yang merasa kelompok eksklusif itu pamer di bawah gemerlap lampu…

p.s: tentang definisi anggota yang tak jelas, aku sungguh ingin tahu, jika dilakukan pendaftaran secara sukarela, berapa sebenarnya blogger yang akan menyatakan diri sebagai anggota? berapa dari sekian puluh ribu blogger di blogdetik yang sebenarnya bagian dari mereka? ( atau berapa persen dari seluruh blogger di dunia yang bersedia mendaftarkan diri ke dalam kelompok ini? :mrgreen: )

chapter 15 ~ pendek pikir

Posted on 24 April 2011 by daunilalang.
Categories: the secret dreamgirl story.

SAAT aku mulai menjadi komentator dan kemudian membangun blogku yang pertama, daunilalang, suasana ngeblog di blogdetik menyenangkan. Semua orang setara, dan suasana egaliter sangat terasa.

Sayangnya, situasi tersebut tak berlangsung seterusnya. Beberapa bulan setelah itu, lingkungan berubah.

Dimulai dari tradisi baru untuk kumpul- kumpul. Kopdar.

Tak ada yang salah dengan kopdarnya sendiri. Sangat wajar bahwa orang- orang yang berkenalan ‘di udara’, atau melalui dunia maya pada suatu saat ingin bertemu secara fisik. Tak ada yang salah dengan melakukan silaturahmi dan mendekatkan hati dengan berkumpul semacam itu.

Yang salah adalah karena kopdar itu sendiri diselewengkan maknanya. Yang salah adalah sebab kopdar itu alih- alih merekatkan justru malah menjadi sumber silang sengketa. Yang salah adalah karena lalu terjelma sebuah kelompok yang merasa lebih berhak, lebih tinggi, lebih segalanya dari yang lain sebab kelompok itu sering bertemu dalam kopdar.

Dan tudingan bahwa blogger- blogger yang tak pernah kopdar artinya ‘tak berkontribusi pada komunitas’ bahkan kemudian disebut pula anti sosial, mulai didengungkan.

Definisi aneh yang tak masuk akal. Sebab kopdar secara fisik itu terbatas waktu dan tempatnya dan dengan sendirinya seharusnya disadari bahwa hal tersebut mungkin tak cocok bagi sebagian blogger. Keterbatasan waktu, tempat, biaya adalah hal mendasar yang mungkin menjadi alasan disamping berjuta alasan lain yang mungkin juga valid.

Aku sendiri tak pernah alergi dengan acara kumpul- kumpul semacam ini. Sepanjang waktu dan/ atau tempatnya cocok, serta suasananya menyenangkan, aku akan dengan senang hati datang. Tapi bahwa ada sebuah kelompok yang menamakan dirinya komunitas yang memaksa orang untuk datang dan menuding negatif orang- orang yang belum atau tak berkesempatan datang sungguh menurunkan minatku untuk bergabung.

Dan apakah kopdar semacam ini benar mendekatkan hati, sebenarnya juga belum tentu. Kadangkala menurutku kedekatan hati bahkan bisa dicapai lebih baik oleh orang- orang yang belum pernah bertemu muka jika orang- orang ini memiliki pandangan dan nilai- nilai hidup yang sama, wawasan yang setara, dan keterbukaan hati dan pikiran untuk menerima kehadiran dan pandangan serta perasaan pihak lain.

Hal ini terbukti tak lama setelah aku menghadiri kopdar pertama dengan komunitas ini…

***

Jika benar kopdar mendekatkan hati, seharusnya apa yang kemudian terjadi ini tak akan terjadi.

Beberapa minggu setelah acara kopdar yang kuhadiri, aku membaca tulisan di sebuah blog. Tulisan yang membuatku tercengang sebab cerpen itu sangat vulgar bagi ukuranku. Ada banyak hal yang tak kusetujui dari tulisan yang menggambarkan suasana free sex tersebut.

Tapi lebih dari semuanya, yang membuat aku berpikir dalam adalah bahwa ada sebuah nama asli seseorang yang digunakan dalam cerpen itu.

Bagiku sendiri, tampak jelas apa implikasi yang mungkin timbul sesudahnya. Bisa ada banyak kesalah pahaman tentang pribadi seseorang yang nama aslinya digunakan yang mungkin akan berakibat tak baik ke depan.

Kuhubungi orang itu dan kutanyakan pendapatnya. Dan saat itu dia mengatakan bahwa dia sendiri sebetulnya terkejut akan isi cerpen yang termuat itu, hanya saja dia tak enak hati untuk memprotes sebab sebelumnya dia sudah dihubungi oleh pemilik blog itu yang mengatakan akan meminjam namanya, dan dia setujui hal tersebut tanpa menduga bahwa cerita semacam itulah yang kemudian akan ditayangkan.

Sementara itu, nama Kuti juga digunakan dalam cerpen tersebut. Kudiskusikan juga hal tersebut dengan Kuti. Tapi hal ini pada saat itu sebenarnya merupakan prioritas yang lebih rendah. Bagaimanapun, Kuti itu bukan nama asli. Itu nama yang pernah digunakan untuk membuat sebuah tulisan dalam blog s3l dan lalu juga digunakan sebagai nama pena pemilik blog tersebut.

Maka dampaknya tak akan terlalu banyak pada kehidupan pribadi di dunia nyata. Walau sebenarnya memang akan juga agak menyulitkan terbentuknya pola yang kami harapkan di blog rumahkayu sebab cerpen tersebut jiwanya sangat bertentangan jiwa blog rumahkayu.

Tapi kuabaikan saja dulu hal tersebut sebab ada yang lebih penting dalam hal ini, yaitu penggunaan nama asli seseorang itu.

Aku menahan diri untuk tak berkomentar dalam cerpen pertama itu.

Tapi cerpen kedua muncul, dan judulnya justru menggunakan nama asli orang yang bahkan sejak cerpen pertama muncul telah menjadi titik perhatianku.

Kutimbang- timbang, akhirnya kuputuskan untuk mengomentari posting tersebut.

Komentar yang berbuntut panjang sebab ternyata, baru kusadari saat itu, bahwa tak semua orang siap membuka mata, tak semua orang siap untuk menerima masukan.

Lebih- lebih lagi, suasana diskusi memang tak berlangsung dengan baik.

Komentar yang kumaksudkan untuk diberikan sebagai masukan pada pemilik blog yang sebenarnya walau aku tahu tak terlalu setuju dengan komentarku tapi masih mencoba menanggapi dengan cara yang baik sebab (saat itu) masih menganggap aku sebagai temannya dengan segera rusak saat seseorang — orang yang sama dengan yang mempertanyakan siapa pemilik blog s3l — menyela masuk ke dalam diskusi.

Kalimat pertama dalam komentarnya adalah : “ Sebenarnya maunya apa sih Dee? “ diikuti dengan beberapa kalimat lain yang menunjukkan keyakinannya bahwa tak seorangpun yang keberatan dengan cerpen tersebut, serta penggunaan nama- nama disana kecuali aku.

Mudah diduga bahwa fokus diberikan pada Kuti, sebab kalimatnya berbunyi ‘tidak ada yang keberatan dengan penggunaan nama mereka baik itu si anu, anu, anu, anu, bahkan Kuti sendiri’. Diikuti dengan ‘sepertinya cuma lo yang keberatan’.

Hmmm.

Kukatakan bahwa bukan begitu sebenarnya yang terjadi, sebab aku tahu ada yang keberatan tapi tak mengungkapkan secara terbuka. Dan kutegaskan bahwa aku sebenarnya tidak sedang membicarakan Kuti.

Sebenarnya, jika saja diskusi bisa dilakukan dengan kepala dingin, inti masalahnya akan lebih mudah dapat diketemukan. Tapi komentar- komentar yang masuk kemudian memang alih- alih memecahkan masalah, malah memanas- manasi situasi.

Di kemudian hari kutemukan bahwa ternyata memang pola seperti inilah yang terus berulang… dalam beberapa kesempatan memberikan feedback, akan ada orang tertentu yang itu- itu juga yang muncul memotong diskusi dan berkomentar dengan cara yang merusak suasana, lalu biasanya akan ada beberapa orang lain yang lalu akan muncul mendukung orang pertama tersebut.

Yang biasanya terjadi lalu diskusi keluar out of topic, dan melenceng ke arah urusan pribadi, termasuk bulliying dan pelecehan dengan cara yang tak pernah dapat kubayangkan yang dilakukan dengan cara yang sangat jauh dari kesantunan dan etika dasar yang kupahami

Tentang cerpen ini sendiri, pada akhirnya, terbuka juga siapa orang yang sebetulnya menjadi concern-ku. Orang yang nama aslinya digunakan.

Tapi situasi terlanjur menjadi rusak.

Dan ketidak adilan cara pandang makin kutemukan di sini. Orang tersebut menyampaikan komentarnya di sana, membuka fakta bahwa dialah yang aku maksudkan, dan juga mengatakan bahwa memang dia sendiri sebetulnya menghkhawatirkan dampak cerpen tersebut pada dirinya.

Setelah menyampaikan komentar tersebut, dia memutuskan untuk menghapus blog-nya.

Aku dengan segera merasakan dampak dari penghapusan blog ini. Kuterima beberapa SMS serta komentar- komentar bernada memaki ke blog-ku yang pada intinya mempersalahkan aku mengenai kejadian dihapusnya sebuah blog itu.

Ck ck ck…

Padahal faktanya, blog hanya akan dapat dihapus oleh pemiliknya dan/ atau orang yang mengetahui password blog tersebut. Dan sebab yang melakukannya manusia dewasa, menurutku hal tersebut tentu dilakukan dengan segenap kesadaran, bukan? Lalu mengapa orang lain yang dituding dan dipersalahkan atas kejadian itu?

Lalu… apa benar kesalahan terletak padaku yang sebenarnya bermaksud mencegah situasi negatif di masa depan pada orang yang menghapus blognya itu?

Mengapa tak terpikirkan bahwa asal muasal semua itu adalah cerpen vulgar tentang free sex yang menggunakan nama orang yang menghapus blognya?

Dan bagaimana dengan orang- orang yang justru berkomentar senang dan mendukung dimuatnya cerpen tersebut tanpa memikirkan dampaknya, hal yang justru menurutku menunjukkan kedangkalan pemikiran dan tak bertanggung jawab sebab dukungan dan komentar senang itu justru menjerumuskan?

***

Apa yang terjadi sehubungan dengan cerpen ini menjawab pertanyaanku, apakah benar kopdar akan mendekatkan hati.

Tidak selalu, bukan? Sebab peristiwa ini terjadi justru setelah aku menghadiri kopdar yang bagi sebagian orang seakan menjadi jiwa dan titik pusat kegiatan menjadi blogger.

Aku mencatat lagi suatu kejadian bahwa memang ada yang tak sehat disini…