chapter 12 ~ blog, komentar, persahabatan dan kejutan manis…

2 Apr 2011

Tentang masa- masa menjadi komentator itu

MENJADI komentator di blog Kuti itu menyenangkan

Kisah yang ditulis Kuti memang menggelitik. Walau gelitikan itu efeknya mungkin berbeda- beda bagi setiap orang. Tapi yang jelas, jumlah visitor blog itu memang tinggi. Kuti pernah mengatakan padaku bahwa rata- rata pengunjung blog s3lingkuh sekitar 300 per hari. Jika dilihat dari jumlah komentar yang muncul di setiap posting, rasanya masuk akal. Jumlah komentarnya puluhan, dan aku yakin itu memang murni sebab orang ingin berkomentar, bukan semata membalas blogwalking Kuti, he he.

Begitulah, efek bahwa tulisan di sana menggelitik juga berdampak padaku.

Rencana untuk hanya berkomentar sekali gagal total. Posting Kuti seringkali membuat aku gatal untuk membuat analisa dengan beragam cara. Kadangkala agak ilmiah, lebih sering lagi asal- asalan. Ha ha. Bukan cuma asal- asalan, komentar aku bahkan seringkali begitu semaunya sehingga nggak nyambung dengan apa yang ditulis di posting blog tersebut.

Dan aku bukan tidak mencatat bahwa se-aneh apapun komentar aku, Kuti tampak selalu dapat membaca esensi komentar tersebut. Beberapa kesimpulan yang tadinya samar- samar tentang pemilik blog tersebut makin hari makin nyata bagiku

***

Kesenangan lain, tentu saja, seperti yang umum terjadi, aku kemudian berkenalan dengan banyak orang karena menjadi komentator di blog s3lingkuh itu.

Blog tersebut tampaknya menjadi semacam lounge tempat orang, baik pembaca, komentator yang bukan blogger dan para blogger berkumpul. Seringkali komentar yang satu dikomentari oleh yang lain. Satu orang bisa mengobrol dengan yang lain di kolom komentar blog Kuti. Puncaknya adalah ketika Kuti memasang shout box yang saat itu masih amat jarang dipasang di sebuah blog. Saat Kuti memiliki shout box di blognya, shout box tersebut langsung berubah menjadi semacam chat room. Beragam topik dari serius hingga gurauan dibahas di sana oleh para pembaca s3lingkuh, seringkali bahkan saat Kuti sendiri tak sedang on line dan hadir di blog tersebut.

Bagiku sendiri, teman kemudian datang dan pergi. Ada yang mampir sebentar dalam peta pertemananku, ada pula yang menetap, dekat, makin dekat dan tetap dekat sampai sekarang.

Jenis persahabatan yang mudah- mudahan akan terus berlangsung sampai waktu yang sangat jauh ke depan kelak itu terjalin salah satunya dengan Sigit Arinto.

Sigit yang konon juga membuat blog pertamanya, sandalilang, karena terinspirasi oleh blog Kuti, juga pernah satu dua kali berinteraksi denganku di shoutbox blog Kuti. Di kemudian hari, setelah blog daunilalang lahir, Sigit merupakan salah satu komentator pertama blog ini, disamping Kuti dan beberapa kawan lain.

Sigit kemudian menjadi pembaca setia daunilalang. Seorang pembaca dengan satu komentar khas: indah indah indah.

Kata indah yang berulang tiga kali itu sering sekali dengan murah hati dia tuliskan di kolom komentar post daunilalang. Begitu seringnya sehingga aku pernah menuduh bahwa dia sekedar berbaik hati saja padaku dengan memberikan komentar semacam itu terus menerus. Tuduhan yang menurut dia tidak benar. Ha ha.
Entahlah. Tapi, lepas dari apapun komentarnya di blog daunilalang, persahabatan kami kian hari memang kian erat.

Ada satu hal yang menurutku agak lucu. Sigit pernah mengatakan bahwa daunilalang itu serupa cermin. Belakangan dia pernah juga mengatakan padaku bahwa menurut dia, aku itu seperti cermin. Kalimat yang merupakan apresiasi luar biasa. Aku menghargai dan berterimakasih atas pendapat semacam itu, tentu saja, walau seperti kukatakan, aku sendiri merasa lucu sebab entah dia sadari atau tidak, tapi Sigit itu serupa cermin bagiku

Dia sedemikian bening, baik hati dan sangat santun sehingga dapat aku jadikan standar kebaikan, dan kadangkala aku bercermin membandingkan seberapa bandel-nya aku dibandingkan dia.

Kami tak selalu sepakat, dan beberapa standar kami berbeda. Dan sebab kami berbeda itu, tampaknya, jika memang Sigit juga merasa aku seperti cermin baginya, kami membuat satu sama lain bisa mereview hidup kami dan menggunakan standar atau pendapat pihak lain untuk memperbaiki hal- hal yang kami sendiri merasa perlu perbaiki atau dapat ditingkatkan

Seperti juga dengan Kuti, selama sekian tahun berteman dekat, aku baru pernah satu kali bertemu dengannya. Pertemuan yang sungguh menyenangkan yang sayang sekali harus dihentikan secara paksa sebab jam istirahat kantor sudah habis saat kami bahkan masih memiliki banyak bahan percakapan

***

Selain soal sahabat, adanya blog s3lingkuh tentu tak bisa dinihilkan peranannya terkait kelahiran blog daunilalang, dan di kemudian hari blog rumahkayu serta padepokanrumahkayu.

Tanpa blog s3lingkuh, tiga blog lain yang disebutkan di atas tak kan pernah ada.

Dan padahal, entah pula sudah berapa kali kutuliskan dalam banyak posting betapa menyenangkannya mengelola sebuah blog duet semacam rumahkayu itu.

Kesenangan menulis di rumahkayu bahkan rupanya masih pula terus bertambah bonusnya sebab selain terbitnya buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu yang bagi kami sudah merupakan sebuah bonus, belakangan kami bersepakat pula untuk mendirikan blog duet kami yang kedua bergenre cerita silat yang ternyata proses menulisnya juga amat mengasyikkan.

***

Sementara itu, ada banyak hal terjadi dengan suasana ngeblog di blogdetik di hari- hari menjelang blog rumahkayu lahir.

Salah satunya adalah aku melihat komentar di blog milik Kuti yang menunjuk ke berita di blog lain, yang ternyata adalah rencana pertemuan perdana para blogger dan komentator, yang kebanyakan juga saling mengenal di blog s3lingkuh milik Kuti. Kuti, tentu saja diundang, walau dia tak hadir ( dan urusan absen dalam kopdar ini kelak rupanya akan berbuntut panjang )

Bagiku sendiri, ada satu momen yang tak kan terlupakan pada kurun waktu itu. Suatu hal yang membuat aku terlonjak sangat gembira dan senang.

Sesuatu yang terjadi dan disampaikan Kuti pada suatu saat sekitar seminggu sebelum kami bersepakat membangun blog duet kami.

Hal yang bagiku sungguh merupakan kejutan yang sangat manis


TAGS persahabatan komentator blog kejutan


-

Author

Follow Me