chapter 13 ~ hadiah yang manis

5 Apr 2011

AKU tersenyum membaca posting yang ditulis di blog padiemas yang mengatakan bahwa Meiy beruntung sebab tak sempat membaca blog s3l dulu sementara sebaliknya, jika saja aku tak membaca blog tersebut dulu maka rugi-lah yang terjadi, sebab tercebur tak sengaja membaca blog s3l dan menjadi komentator disanalah cikal bakal terbangunnya blog daunilalang, rumahkayu dan padepokanrumahkayu…

Statement yang sulit dibantah sebab seperti yang telah ribuan kali kuceritakan memang hal begitulah sejarah terbentuknya blog daunilalang, rumahkayu dan padepokanrumahkayu…

***

Jika dipikir- pikir, sebelum blog rumahkayu terbentukpun tanpa disadari sebetulnyaaku sudah ‘magang’ untuk membuat posting estafet dengan Kuti saat menjadi komentator di blognya itu, hal yang dikemudian hari kami juga lakukan saat kami mengelola blog duet, ha ha..

Kuti saat itu membiarkan kejahilanku untuk membuat komentar- komentar yang sebetulnya walau tokohnya sama, atau bahasa yang digunakan mirip dengan yang dia tulis di s3l ataubahkan kadangkala aku dengan sengaja menyontek mentah- mentah bahasa yang digunakan Kuti di postingnya tapi isi cerita serta pokok pemikiran yang terkandung dicerita yang aku tulissangat berbeda, seringkali bahkan berlawanan, dengan apa yang ditulis dalam post di blog s3l.

Bukan hanya di kolom komentar blognya, tapi di blog daunilalangpun kutulis post jahil semacam itu, ha ha ha.

Contoh yang masih kuingat adalah serial yang menceritakan tentang ’sakit sedikit’ yang sempat membuat banyak orang menanti ending yang ehm-ehm..padahal..ha.. ha… memang ‘ehm ehm’ siihhh… hahahahaha… ( post yang aku maksud itu ada di sini, di sini dan di sini… )

Hal semacam itubukan hanyadapat ditemukanpadaserial itu, tapi ada pada banyak lagi tulisan lain yang sejenis..

***

Terkait dengan post di blog Kuti sendiri, aku menerima hadiah manis beberapa hari sebelum kuketahui siapa nama asli Kuti dan beragam data diri lainnya.

Hadiah manis ini yaitu saat Kuti, pada akhirnya, mengkonfirmasi dugaan yang telah beberapa kali kuutarakan padanya : dugaan kuatku bahwa post s3l adalah fiksi.

Sungguh, aku senang sekali saat kudapatkan konfirmasi itu. Sebab itu artinya logikaku masih beres ( bagiku tulisan di s3l tampak ‘aneh’ dan ada hal- hal yang tak dapat diterima logikanya dan hahaha..saat itu aku ‘merepotkan’ Kuti dengan beragam pertanyaan tentang ini dan itu yang menurutku ‘koq aneh siiihhh…’ ).

Kuti, di belakang hari, pernah mengatakan padaku bahwa komentar- komentar dan pertanyaan- pertanyaanku itu ‘berbahaya’.

Maksudnya:berbahaya, sebab sebenarnya pertanyaan- pertanyaan itu menggiring pada kesimpulan yang amat nyata: post di s3l itu ngarang banget… he he he…

Pertanyaan- pertanyaannya sendiri sebagian kusampaikan melalui kolom komentar di blognya, sebagian lagi — kami sudah mulai berteman baik saat itu — kusampaikan di belakang layar. Tentang apa contoh pertanyaan yang kusampaikan pada Kuti saat itu, kapan- kapan saja kutulis dalam posting yang lain ya?

Tapi sungguh, Kuti mungkin juga masih mengingat dengan jelas seperti apa reaksi gembiraku yang amat sangat lebih dari dua tahun yang lalu saat dia mengkonfirmasi bahwa dugaanku tentang post s3l fiksi itu memang benar adanya.

Bagiku, itu memecahkan soal aneh yang terus berputar- putar di kepalaku, sebab seperti kukatakan sebelumnya, saat pertama kali hendak berkomentar di blog Kuti, aku memiliki dua alternatif sudut pandang mendasar yang tak bisa keduanya benar. Sudut pandangitu bertolak belakang dan hanya bisa salah satu yang benar, yaitu: apakah post di blog s3l itu cerita nyata, atau fiksi.

Sejak awal instink-ku sudah mengatakanpost itu fiksi. Tapi setelah aku menimbang- nimbang, saat pertama kali aku berkomentar, kuputuskan untuk mengikuti arus saja, dengan menganggap post s3l adalah true story. Dan begitulah yang kulakukanhingga beberapa post berikutnya, sampai makin lama aku makin menyadari bahwa jika cerita dalam post itukuandaikan sebagaisoal matematika, maka ada yang tidak beres dan sangat janggal dengan variabel- variabelnya.

Gambarannya, jika 1+x = 3, maka seharusnya x=2. Tapi dalam kasus s3l, jika misalnya angka2 yang dimasukkan ke dalam persamaan itu, maka terasa ada sesuatu yang aneh dan tak pada tempatnya.

Secara sederhana,kesimpulannya hanya bisabahwa x itu tidak sama dengan 2, dan karenanya jumlahnya juga bukan 3.. Begitulah kira- kira ( angka- angka ini hanya misal, gantilah angkanya dengan berapa saja, bisa saja… aku hanya ingin menggambarkan tentang sesuatu yang logis dan tidak logis saja ).

Jadi, begitulah… berulang kali kucoba memecahkan soal tersebut, dan makin lama makin jelas bahwa setiap kali aku memasukkan apa yang kubaca ( yang tersurat ) dan ‘kubaca’ ( yang tersirat ) dalam posting s3l dan dalam interaksiku dengan Kuti, jika dasar pemikirannya adalah apa yang tertulis itu fiksi, maka semua menjadi tampak logis. Berbeda dengan jika dasar pemikirannya adalah tulisan tersebut true story, semuakelihatan berantakan…

Jadi bagiku, bahwa s3l itu fiksi adalah sesuatu yang tampak sangat nyata, hanya saja dengan ‘menyebalkan’, Kuti tak berbaik hati mengkonfirmasi hal tersebut dengan segera.Seingatku, baru setelah lebih dari tiga kali aku mempertanyakan hal itulah dia kemudian mengatakan padaku bahwa s3l memang fiksi.

***

Hih! Kuti memang sering iseng, jahil dan ‘menyebalkan’, ha ha ha. Tapi kumaafkan kejahilan dan tingkah menyebalkannya saatitu sebab sungguh, aku senaaanggggg sekali saat mengetahui hal tersebut.

Rasa senang ketika mengetahui bahwa s3l itu fiksi sedemikian dalam sehingga bahkan walau momen itu sudah lebih dari dua tahun berlalu, aku masih dapat mengingat dan merasakannyadengan sangat jelas hingga saat ini…

( Aku senang bahwa logika dan hatiku masih beres dan lebih dari itu aku senang bahwa Kuti ternyata memang, seperti yang sudah kurasakan selama berinteraksi dengannya, tidak tulalit dan ajaib seperti yang tertulis di post blog s3l… — jauh… sangat jauh… ha ha ha )


TAGS fiksi blog cikal bakal


-

Author

Follow Me