chapter 14 ~ kerikil yang menghadang

21 Apr 2011

Penggalan kenangan pahit itu…

RANGKAIAN pengalaman baru sehubungan dengan berkelanjutannya kegiatan ngeblog ternyata belum berakhir.

Setelah blog daunilalang berdiri, aku masih tetap menjadi komentator di blog s3l. Dan persahabatanku dengan pemilik blog itu makin erat. Tentu saja, adalah sebuah konsekwensi logis bahwa ada banyak hal yang tidak, atau belum dibuka kepada publik tentang blog tersebut maupun blogger dibaliknya telah dibuka kepadaku.

Rangkaian konfirmasi bahwa tulisan di blog s3l adalah fiksi, informasi tentang nama lengkap pemilik blog tersebut dan profesi serta lokasi tempat tinggalnya, sudah lama kuketahui. Dan walau aku tahu bahwa ada banyak orang yang sangat ingin mengetahui detail tersebut, aku tak berniat ataupun berminat memberikan informasi tersebut pada oorang lain. Jadilah untuk kurun waktu yang cukup lama aku menjadi satu- satunya orang yang mengetahui jatidiri blogger di balik blog s3l.

Fakta ini, hal-hal yang aku ketahui tapi tak diketahui orang lain yang juga ‘mengenal’ Kuti dari blognya yang aku rasa membuat perbedaan sangat besar dalam cara pandangku terhadapnya dengan cara pandang pembaca blognya yang lain.

Sebab bagiku, blogger di balik blog s3l itu adalah seorang manusia utuh. Dan sebenarnya, memang bahkan ketika aku belum mengetahui nama aslinyapun, aku selalu memandang dan memperlakukannya sebagai manusia seutuhnya.

Logikanya sederhana. Komputer, internet, blog, harus dioperasikan oleh manusia. Tak mungkin sebuah blog lahir tanpa ada seorang manusia di baliknya. Dan karena itulah, aku bersikap seperti layaknya sikap kita jika berhubungan dengan manusia lain.

Kami banyak berdiskusi di balik layar saat itu. Bukan hanya diskusi, ha ha… tapi juga kadangkala berdebat, dan seringkali hanya saling meledek dan bercanda, yang herannya banyak berujung pada makin saling mengertinya kami pada jalan pikiran masing- masing.

Mungkin itu pula sebabnya, seperti telah berulangkali dituliskan, kami dengan ‘begitu saja’ bersepakat untuk mengelola sebuah blog bersama. Kesepakatan yang bahkan sudah dapat dicapai ketika belum tahu blog itu akan diberi nama apa maupun apa garis besar topik yang akan kami bahas dalam blog bersama itu.

Anyway, blog itu kemudian lahir. Dan membuat blog duet ternyata sangat menyenangkan. Ide dengan mudah mengalir sebab tulisan yang satu akan memancing ide yang lain.

Tapi begitulah. Kepala boleh sama hitam, jalan pikiran dan perasaan memang bisa sangat berbeda.

Ada satu hal diluar dugaanku yang terjadi. Yaitu bahwa saat rumahkayu diumumkan berdiri, ada beberapa komentar muncul dengan isi yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku.

Aku bingung sebab logikaku tak dapat mencerna apa yang terjadi…

***

Kebingungan yang sama sebelumnya pernah kualami saat masih menjadi komentator blog s3l dan ada seseorang yang tiba- tiba dengan ketus mempertanyakan siapa pemilik blog s3l sebetulnya, Kuti atau Dee.

Komentator tersebut bahkan menambahkan ‘jadi garing’ di belakang pertanyaan itu.

Aku heran, dan kesal sebetulnya.

Pertanyaan itu aneh. Sepanjang apapun komentar yang kutulis saat itu, dan sesering apapun aku menuliskan komentarku, sebetulnya pertanyaan blog s3l milik siapa tak harus muncul. Aku menulis di kolom komentar dimana sang pemilik blog menulis postingnya. Aku tak pernah menulis posting disana. Jadi siapa pemilik blog tersebut sangat jelas sebetulnya.

Dan garing?

Oh, please deh ah. Memangnya kenapa dia merasa berhak mengatur- atur? Pemilik blognya saja tidak protes, kenapa dia jadi repot sendiri?

Secara terus terang kutuliskan dalam kolom komentar itu pendapat yang kira- kira senada dengan yang kutulis dalam paragraf di atas ini.

Aku jengkel dengan keusilan itu. Sebab menurutku tak ada keharusan bagi seseorang untuk membaca komentarku. Jika memang tak mau membacanya, ya tak perlu dilakukan. Baca saja postingnya, dan lewatkan membaca komentarnya. Simpel, sebenarnya.

Aku tak akan terlalu banyak basa- basi lagi sekarang. Aku sudah bosan menahan diri sebab ternyata selama lebih dari dua tahun terakhir gangguan serupa terus menerus muncul. Tapi sebenarnya jelas saat itu bahwa ada rasa iri hati yang muncul. Ada kompetisi tak sehat. Ada perseteruan tak wajar yang mulai dipupuk.

Nyata, sangat nyata bagiku.

Dan itulah sebabnya aku saat itu memutuskan untuk tak lagi berkomentar di blog s3l.

Aku tetap berdiskusi dengan pemilik blog tersebut, tapi tak meninggalkan komentarku di blognya. Sang pemilik blog tentu saja tahu sebabnya dan sering saat kami sedang berdiskusi bertanya padaku: koq belum komen? Pertanyaan yang kujawab dengan: nggak ah, malas.

Dan entah apakah saat itu ada yang menyadari atau tidak, tapi saat aku memutuskan untuk tidak meninggalkan komentarku itu, untuk beberapa saat tak ada posting baru muncul di blog s3l.

Pemilik blog yang saat itu sudah bersahabat denganku memutuskan untuk tidak membuat posting baru sebelum aku bersedia meninggalkan komentarku lagi di blognya.

Ya ampun!

Kukatakan padanya: tidak, aku tidak mau berkomentar sebab situasinya tidak sehat. Dan aku benar menahan diri untuk tak berkomentar. Sementara blogger pemilik blog tersebut tetap pula bertahan tak memuat posting baru karena aku tak berkomentar di blognya.

Aku ingat bahwa banyak pembaca blogs3l yang memang selalu menanti munculnya posting baru di sana mulai bertanya - tanya kenapa belum juga muncul post baru di blog tersebut.

Sejujurnya, aku geli sekaligus kesal. Andai saja mereka tahu apa sebabnya blogger di balik blog s3l itu tak membuat posting baru saat itu…

***

Kembali tentang rumahkayu. Keheranan dan kebingungan yang sama seperti kejadian di atas muncul lagi dibenakku ketika rumahkayu mulai berdiri. Sebab… ada beberapa komentar yang kurang lebih mengatakan begini: ‘tapi walau sudah ada rumahkayu selingkuhnya masih jalan terus kan?’

Waduh.

Bukan apa- apa. s3l saat itu dipercaya sebagai blog yang menyajikan true story. Dan aku sungguh heran bahwa ternyata ada yang mengharapkan bahwa kisah itu terus berlanjut. Artinya, jika ternyata yang ditulis itu benar true story, maka kisah perselingkuhan yang terjadipun harus dilanjutkan?

Tentu saja tak luput dari pengamatanku bahwa bukan hanya lelaki yang menginginkan perualangan bernama perselingkuhan itu dilanjutkan, tapi ada juga komentar serupa dari perempuan. Wow!

Samar- samar aku mulai mencium bahwa rencana sang pemilik blog untuk segera menutup blog s3l begitu blog rumahkayu berdiri tak akan dapat dilakukan dengan semudah itu. Ada banyak hal yang akan mempersulit langkah itu. Karena itulah, tidak seperti yang pernah didiskusikan sebelumnya, blog s3l tidak dengan serta merta ditutup walau blog rumahkayu sudah mulai wira- wiri di dunia maya.

Dan ternyata, bukan hanya itu kerikil yang menghadang. Bagiku sejujurnya, perjalanan yang meninggalkan banyak gores dan luka berdarah dimulai ketika sebuah komunitas di kalangan bloggerdetik dibentuk.

Komunitas yang seharusnya mempersatukan itu ternyata malahmemecah belah. Komunitas yang seharusnya hangat, ternyata menjadi sumber fitnah dan alasan mendiskreditkan pihak- pihak yang tak sepaham dengan para penggiatnya.

Yang paling mengherankan bagiku, komunitas ini dibuat dengan dasar pemikiran bahwa semua bloggerdetik adalah anggotanya, tetapi alih- alih merangkul semua, yang sangat nyata tampak justru eksklusivitas. Seakan ada sekelompok blogger elite yang berkuasa dan berhak memerintah semua bloggerdetik lain.

Komunitas ini seakan memberi kewajiban pada semua bloggerdetik untuk menginduk pada mereka, tetapi tak memberikan hak untuk bersuara. Aneh,bukan?


TAGS luka gossip blog gores


-

Author

Follow Me