chapter 15 ~ pendek pikir

24 Apr 2011

SAAT aku mulai menjadi komentator dan kemudian membangun blogku yang pertama, daunilalang, suasana ngeblog di blogdetik menyenangkan. Semua orang setara, dan suasana egaliter sangat terasa.

Sayangnya, situasi tersebut tak berlangsung seterusnya. Beberapa bulan setelah itu, lingkungan berubah.

Dimulai dari tradisi baru untuk kumpul- kumpul. Kopdar.

Tak ada yang salah dengan kopdarnya sendiri. Sangat wajar bahwa orang- orang yang berkenalan di udara, atau melalui dunia maya pada suatu saat ingin bertemu secara fisik. Tak ada yang salah dengan melakukan silaturahmi dan mendekatkan hati dengan berkumpul semacam itu.

Yang salah adalah karena kopdar itu sendiri diselewengkan maknanya. Yang salah adalah sebab kopdar itu alih- alih merekatkan justru malah menjadi sumber silang sengketa. Yang salah adalah karena lalu terjelma sebuah kelompok yang merasa lebih berhak, lebih tinggi, lebih segalanya dari yang lain sebab kelompok itu sering bertemu dalam kopdar.

Dan tudingan bahwa blogger- blogger yang tak pernah kopdar artinya tak berkontribusi pada komunitas bahkan kemudian disebut pula anti sosial, mulai didengungkan.

Definisi aneh yang tak masuk akal. Sebab kopdar secara fisik itu terbatas waktu dan tempatnya dan dengan sendirinya seharusnya disadari bahwa hal tersebut mungkin tak cocok bagi sebagian blogger. Keterbatasan waktu, tempat, biaya adalah hal mendasar yang mungkin menjadi alasan disamping berjuta alasan lain yang mungkin juga valid.

Aku sendiri tak pernah alergi dengan acara kumpul- kumpul semacam ini. Sepanjang waktu dan/ atau tempatnya cocok, serta suasananya menyenangkan, aku akan dengan senang hati datang. Tapi bahwa ada sebuah kelompok yang menamakan dirinya komunitas yang memaksa orang untuk datang dan menuding negatif orang- orang yang belum atau tak berkesempatan datang sungguh menurunkan minatku untuk bergabung.

Dan apakah kopdar semacam ini benar mendekatkan hati, sebenarnya juga belum tentu. Kadangkala menurutku kedekatan hati bahkan bisa dicapai lebih baik oleh orang- orang yang belum pernah bertemu muka jika orang- orang ini memiliki pandangan dan nilai- nilai hidup yang sama, wawasan yang setara, dan keterbukaan hati dan pikiran untuk menerima kehadiran dan pandangan serta perasaan pihak lain.

Hal ini terbukti tak lama setelah aku menghadiri kopdar pertama dengan komunitas ini…

***

Jika benar kopdar mendekatkan hati, seharusnya apa yang kemudian terjadi ini tak akan terjadi.

Beberapa minggu setelah acara kopdar yang kuhadiri, aku membaca tulisan di sebuah blog. Tulisan yang membuatku tercengang sebab cerpen itu sangat vulgar bagi ukuranku. Ada banyak hal yang tak kusetujui dari tulisan yang menggambarkan suasana free sex tersebut.

Tapi lebih dari semuanya, yang membuat aku berpikir dalam adalah bahwa ada sebuah nama asli seseorang yang digunakan dalam cerpenitu.

Bagiku sendiri, tampak jelas apa implikasi yang mungkin timbul sesudahnya. Bisa ada banyak kesalah pahaman tentang pribadi seseorang yang nama aslinya digunakan yang mungkin akan berakibat tak baik ke depan.

Kuhubungi orang itu dan kutanyakan pendapatnya. Dan saat itu dia mengatakan bahwa dia sendiri sebetulnya terkejut akan isi cerpen yang termuat itu, hanya saja dia tak enak hati untuk memprotes sebab sebelumnya dia sudah dihubungi oleh pemilik blog itu yang mengatakan akan meminjam namanya, dan dia setujui hal tersebut tanpa menduga bahwa cerita semacam itulah yang kemudian akan ditayangkan.

Sementara itu, nama Kuti juga digunakan dalam cerpen tersebut. Kudiskusikan juga hal tersebut dengan Kuti. Tapi hal ini pada saat itu sebenarnya merupakan prioritas yang lebih rendah. Bagaimanapun, Kuti itu bukan nama asli. Itu nama yang pernah digunakan untuk membuat sebuah tulisan dalam blog s3l dan lalu juga digunakan sebagai nama pena pemilik blog tersebut.

Maka dampaknya tak akan terlalu banyak pada kehidupan pribadi di dunia nyata. Walau sebenarnya memang akan juga agak menyulitkan terbentuknya pola yang kami harapkan di blog rumahkayu sebab cerpen tersebut jiwanya sangat bertentangan jiwa blog rumahkayu.

Tapi kuabaikan saja dulu hal tersebut sebab ada yang lebih penting dalam hal ini, yaitu penggunaan nama asli seseorang itu.

Aku menahan diri untuk tak berkomentar dalam cerpen pertama itu.

Tapi cerpen kedua muncul, dan judulnya justru menggunakan nama asli orang yang bahkan sejak cerpen pertama muncul telah menjadi titik perhatianku.

Kutimbang- timbang, akhirnya kuputuskan untuk mengomentari posting tersebut.

Komentar yang berbuntut panjang sebab ternyata, baru kusadari saat itu, bahwa tak semua orang siap membuka mata, tak semua orang siap untuk menerima masukan.

Lebih- lebih lagi, suasana diskusi memang tak berlangsung dengan baik.

Komentar yang kumaksudkan untuk diberikan sebagai masukan pada pemilik blog yang sebenarnya walau aku tahu tak terlalu setuju dengan komentarku tapi masih mencoba menanggapi dengan cara yang baik sebab (saat itu) masih menganggap aku sebagai temannya dengan segera rusak saat seseorang — orang yang sama dengan yang mempertanyakan siapa pemilik blog s3l — menyela masuk ke dalam diskusi.

Kalimat pertama dalam komentarnya adalah : Sebenarnya maunya apa sih Dee? diikuti dengan beberapa kalimat lain yang menunjukkan keyakinannya bahwa tak seorangpun yang keberatan dengan cerpen tersebut, serta penggunaan nama- nama disana kecuali aku.

Mudah diduga bahwa fokus diberikan pada Kuti, sebab kalimatnya berbunyi ‘tidak ada yang keberatan dengan penggunaan nama mereka baik itu si anu, anu, anu, anu, bahkan Kuti sendiri’. Diikuti dengan sepertinya cuma lo yang keberatan.

Hmmm.

Kukatakan bahwa bukan begitu sebenarnya yang terjadi, sebab aku tahu ada yang keberatan tapi tak mengungkapkan secara terbuka. Dan kutegaskan bahwa aku sebenarnya tidak sedang membicarakan Kuti.

Sebenarnya, jika saja diskusi bisa dilakukan dengan kepala dingin, inti masalahnya akan lebih mudah dapat diketemukan. Tapi komentar- komentar yang masuk kemudian memang alih- alih memecahkan masalah, malah memanas- manasi situasi.

Di kemudian hari kutemukan bahwa ternyata memang pola seperti inilah yang terus berulang dalam beberapa kesempatan memberikan feedback, akan ada orang tertentu yang itu- itu juga yang muncul memotong diskusi dan berkomentar dengan cara yang merusak suasana, lalu biasanya akan ada beberapa orang lain yang lalu akan muncul mendukung orang pertama tersebut.

Yang biasanya terjadi lalu diskusi keluar out of topic, dan melenceng ke arah urusan pribadi, termasuk bulliying dan pelecehan dengan cara yang tak pernah dapat kubayangkan yang dilakukan dengan cara yang sangat jauh dari kesantunan dan etika dasar yang kupahami

Tentang cerpen ini sendiri, pada akhirnya, terbuka juga siapa orang yang sebetulnya menjadi concern-ku. Orang yang nama aslinya digunakan.

Tapi situasi terlanjur menjadi rusak.

Dan ketidak adilan cara pandang makin kutemukan di sini. Orang tersebut menyampaikan komentarnya di sana, membuka fakta bahwa dialah yang aku maksudkan, dan juga mengatakan bahwa memang dia sendiri sebetulnya menghkhawatirkan dampak cerpen tersebut pada dirinya.

Setelah menyampaikan komentar tersebut, dia memutuskan untuk menghapus blog-nya.

Aku dengan segera merasakan dampak dari penghapusan blog ini. Kuterima beberapa SMS serta komentar- komentar bernada memaki ke blog-ku yang pada intinya mempersalahkan aku mengenai kejadian dihapusnya sebuah blog itu.

Ck ck ck

Padahal faktanya, blog hanya akan dapat dihapus oleh pemiliknya dan/ atau orang yang mengetahui password blog tersebut. Dan sebab yang melakukannya manusia dewasa, menurutku hal tersebut tentu dilakukan dengan segenap kesadaran, bukan? Lalu mengapa orang lain yang dituding dan dipersalahkan atas kejadian itu?

Lalu apa benar kesalahan terletak padaku yang sebenarnya bermaksud mencegah situasi negatif di masa depan pada orang yang menghapus blognya itu?

Mengapa tak terpikirkan bahwa asal muasal semua itu adalah cerpen vulgar tentang free sex yang menggunakan nama orang yang menghapus blognya?

Dan bagaimana dengan orang- orang yang justru berkomentar senang dan mendukung dimuatnya cerpen tersebut tanpa memikirkan dampaknya, hal yang justru menurutku menunjukkan kedangkalan pemikiran dan tak bertanggung jawab sebab dukungan dan komentar senang itu justru menjerumuskan?

***

Apa yang terjadi sehubungan dengan cerpen ini menjawab pertanyaanku, apakah benar kopdar akan mendekatkan hati.

Tidak selalu, bukan? Sebab peristiwa ini terjadi justru setelah aku menghadiri kopdar yang bagi sebagian orang seakan menjadi jiwa dan titik pusat kegiatan menjadi blogger.

Aku mencatat lagi suatu kejadian bahwa memang ada yang tak sehat disini…


TAGS blog cerpen vulgar free sex kopdar tidak sehat


-

Author

Follow Me